Untuk mendukung digitalisasi, BTN juga akan memperkuat SDM berbasis teknologi dan membuka layanan syariah di seluruh cabang BTN sebagai strategi percepatan penetrasi pasar.
“Kami tidak akan langsung masuk ke corporate banking. Fokus kami tetap pada consumer dan retail banking, dengan pendekatan digital,” kata Nixon.
BUS ini dibentuk dari hasil akuisisi 70% saham BVIS senilai Rp1,5 triliun dan spin-off BTN Syariah, yang ditargetkan rampung pada Oktober atau November 2025. BUS akan masuk kategori Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) II dan menjadi pesaing Bank Syariah Indonesia (BSI).
Per Maret 2025, BTN Syariah mencatatkan aset sebesar Rp61,19 triliun. BTN optimistis BUS baru akan memperkuat ekosistem perbankan syariah nasional.(*)
