Dia menjelaskan, kebanyakan warga yang membeli telur pecah miliknya itu berprofesi sebagai penjual jajanan telur gulung, atau yang sejenisnya. Namun, saat ini permintaan juga banyak yang berasal dari warga yang memang sekedar untuk dikonsumsi sehari-hari.
“Pedagang telur gulung banyak kalau hari biasa, satu orang pedagang itu sih paling nyari 5-15 butir telur pecah. Tapi kalau mahal seperti ini, buat keperluan rumah tangga juga dibeli,” ujarnya.
Misbah berharap pemerintah bisa turun tangan untuk membantu menekan harga telur, sebab tingginya harga telur membuat penjualan di lapaknya berkurang, hingga omzet yang ia dapat turun drastis. Jika kondisi seperti itu dibiarkan, bukan tidak mungkin pedagang telur sepertinya menjadi bangkrut.
“Padahal ya, ini kan fenomena tiap tahun, terulang terus, herannya pemerintah nggak sanggup juga menekan harga bahan pokok. Masa iya mereka tidak belajar, harusnya sudah tahu donk sebabnya,” tandasnya.
Sementara, salah seorang pembeli, Dian mengaku, keberatan dengan kenaikan harga telur yang terjadi. Kendati begitu, Dian mengaku bahwa dirinya sudah hafal betul bahwa harga bahan pokok termasuk telur selalu mengalami kenaikan jelang Idul Adha. Untuk itu, ia sendiri membawa uang lebih dari rumah.
