“Karantina itu penting. Di situlah kita bisa melihat siapa yang memang punya jiwa pendidik dan siapa yang hanya ‘ikut arus’. Lebih baik disaring sejak dini, daripada mencetak guru tanpa hati,” tegasnya.
Dirjen mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk mulai meninggalkan pendekatan yang seragam dan menggantinya dengan sistem yang lebih manusiawi, adaptif, dan berbasis data.
“Setiap orang punya potensi unik. Jangan samakan semua guru dengan satu standar. Pendidikan masa depan harus mulai dari mengenali manusia, bukan dari format kurikulum,” pungkasnya. (ahmad)
