“Seperti dokter yang harus punya empati, guru juga harus punya passion. Kalau tidak, jangan dipaksa. Pendidikan bukan tempat uji coba,” katanya.
Dirjen menyebut pentingnya menggunakan teknologi profiling DNA bakat sebagai instrumen untuk mengenali keunikan setiap calon guru. Ia mengaku telah berkomunikasi dengan beberapa lembaga yang memiliki metodologi ini secara ilmiah dan teruji.
“Kita bisa tahu apakah seseorang cocok menjadi pengajar, mentor, peneliti, atau bahkan komunikator. Teknologi sudah memungkinkan itu. Tinggal kita mau atau tidak menggunakannya,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis pemetaan bakat ini penting agar pendidikan guru tidak hanya melahirkan lulusan yang “cukup baik di atas kertas”, tapi juga “kuat secara batin dan siap mengabdi di dunia nyata.”
Lebih lanjut, Amien juga mengusulkan agar PPG menghadirkan program karantina intensif sebagai sarana pembentukan karakter dan pengujian komitmen calon guru. Ia menekankan bahwa fase ini harus menjadi ruang reflektif, bukan sekadar tahap administratif.
