Target hujan buatan Pemprov DKI Jakarta bukan bendungan, seperti pengalaman saya dahulu, tapi menargetkan agar hujan dari langit Jakarta dipindah ke langit Bogor, Bekasi, dan Tangerang, sebelum awan itu (Cumullus) masuk ke ibu kota. Misi ini diluncurkan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, proses teknisnya dari banyak pemberitaan masih mirip dengan cara dulu, mulai dari survei awan, identifikasi formasi awan cumulus, lalu penyemaian/seeding garam ke awan menggunakan pesawat.
Tapi ada satu pertanyaan penting, se-efektif apa rekayasa cuaca ini mencegah banjir Jakarta? Berdasarkan dari berbagai sumber terpercaya bahwa hujan buatan, atau rekayasa cuaca dilangit bukan solusi utama
Bukan Hanya Aliran Air, Tapi Bagaimana Perilaku Kita?
Jakarta tidak hanya dihantui hujan dari atas, tapi juga air kiriman dari hulu. Sungai-sungai seperti Ciliwung, Pesanggrahan, Angke, Krukut, Sunter, dan Kali Grogol semuanya mengalir dari wilayah hulu seperti Bogor, Depok, dan Tangerang Selatan, menuju teluk Jakarta. Ini berarti, meski Jakarta cerah, banjir tetap bisa datang, jika hujan turun deras di hulu dan air mengalir lewat sungai-sungai yang sudah lama dalam kondisi kritis akibat tumpukan sampah, eceng gondok, pendangkalan, bangunan liar, dll.

