Oleh: Agusto Sulistio – Pegiat Sosmed, Aktif di Indonesia Demokrasi Monitor (InDemo).
IPOL.ID – Mungkin sekitar awal tahun 1991an saya menjadi bagian kecil dari satu proyek operasi hujan buatan yang digagas pemerintah pusat melalui BPPT kala itu. Sebagai operator radio komunikasi SSB menjadi penghubung antara darat dan udara, saat tim berupaya menaikkan debit air di dua PLTA Jawa Tengah, PLTA Tuntang dan PLTA Kedung Ombo. Kekeringan kala itu cukup kritis, dan BPPT diinstruksikan untuk memancing hujan di wilayah Rawa Pening, Kali Tuntang dan sekitaran Salatiga wilayah hulu dari sistem aliran air tersebut.
Beroperasi dari Pangkalan Udara Penerbangan Angkatan Darat, Ahmad Yani, Semarang. Setiap sekitar jam 9 pagi pesawat Pilatus Porter milik TNI-AU diterbangkan untuk survei mencari posisi awan cumulus, sedangkan operasi utamanya, penyemaian garam (NaCl) ke awan cumullus potensial pada ketinggian tertentu menggunakan pesawat Dakota milik TNI-AL.
Kini, lebih dari 30 tahun berlalu, membaca berita diberbagai media lokal/nasional terkait penjelasan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung yang pada awal Juli 2025 melakukan rekayasa cuaca untuk mengalihkan hujan agar tidak mengguyur kota Jakarta yang sudah kewalahan menampung air, dan membuat warga kelimpungan akibat banjir diberbagai wilayah.
