Kondisi sungai-sungai tersebut bukan tanpa masalah. Hampir setiap tahun, laporan dari BPBD dan Dinas SDA DKI mencatat bahwa:
* Sampah plastik dan limbah rumah tangga masih menyumbat aliran air, terutama di kawasan padat penduduk.
* Eceng gondokberkembang biak tanpa kendali di waduk dan bantaran kali, seperti di Waduk Pluit dan Kanal Banjir Timur.
* Pendangkalan akibat sedimentasi membuat kapasitas sungai menurun drastis. Sungai yang seharusnya mampu menampung air dari hulu, kini cepat meluap.
Kondisi ini menjadi paradoks saat kita sibuk menggeser awan agar hujan tidak jatuh di Jakarta, kita lupa bahwa air tetap akan sampai ke depan atau dalam rumah kita lewat sungai yang tersumbat, menyempit, dan tak lagi mampu mengalirkan air sebagaimana mestinya.
Rekayasa cuaca adalah alat bantu. Tapijika sungainya kotor, salurannya tersumbat, dan warganya tetap membuang sampah ke kali, maka air yang ditahan di langit pun akan turun dari sela-sela tanah dan luberan sungai.
Di sinilah tantangan terbesar bagi Gubernur Pramono Anung dan semua pemimpin kota, mengajak warganya hidup tertib, menjaga lingkungan, dan membuang sampah pada tempatnya. Kampanye bersih-bersih, edukasi lingkungan, dan penegakan hukum bagi pembuang sampah ke kali harus dilakukan secara konsisten dan massif.

