Hal ini bukan mustahil. Kita bisa belajar dari Singapura. Di sana, Sungai Kallang dan Sungai Rochor dulunya sangat tercemar. Namun di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew, pemerintah berhasil melakukan transformasi besar-besaran. Pemerintah tak hanya membersihkan sungai secara teknis, tapi juga mendidik rakyat dengan pendekatan disiplin dan insentif. Hasilnya, sungai-sungai di Singapura kini bersih dan menjadi pusat rekreasi warga. Tak ada yang berani membuang sampah sembarangan karena aturan tegas dan budaya yang tertanam sejak kecil.
Jika Jakarta ingin benar-benar bebas banjir, bukan hanya langit yang harus direkayasa, tapi juga pola pikir warganya. Rekayasa perilaku jauh lebih menantang dari rekayasa cuaca, namun jauh lebih efektif dalam jangka panjang.
Rekayasa cuaca adalah langkah ilmiah yang patut diapresiasi. Namun, sebagaimana pengalaman saya dahulu saat ikut dalam proyek rekayasa cuaca, tak cukup hanya “menurunkan hujan” atau “mengalihkan awan dan hujan”. Dibutuhkan penataan sungai yang menyeluruh, pola hidup bersih masyarakat, dan kepemimpinan yang mampu menjadi teladan dan penggerak budaya tertib.

