Sejurus Nasirun melanjutkan, dia mulai dari bentuk bulat melambangkan bumi yang rumit.
“Tapi saat saya lihat Bunta melanjutkan dengan langit, merpati, dan tunas-tunas baru, saya tahu bahwa ini tentang harapan”.
Nasirun pun mengaku sangat terharu dengan hasil akhir karya yang keduanya lukis di atas kanvas.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian diplomasi budaya dalam inisiatif Sakuranesia “Friend-Ship” Japan-Indonesia Cultural Dialogue, yang sebelumnya telah menampilkan diskusi lintas budaya antara Jenderal (Purn) Moeldoko dan Iehiro Tokugawa di Paviliun Indonesia Expo 2025 Osaka, Jepang.
Kini, narasi damai tersebut berlanjut di Yogyakarta melalui seni rupa. Kolaborasi seni ini turut dihadiri Panglima TNI (2013-2015) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, inisiator utama dari program diplomasi budaya kedua negara.
Moeldoko menegaskan bahwa dunia kini membutuhkan cara baru dalam membangun perdamaian, dan seni bisa menjadi jawabannya.
“Saya sangat senang melihat bentuk soft diplomacy seperti ini. Dunia saat ini sedang mengalami luka, konflik, dan disintegrasi. Tapi saya yakin, melalui seni, kita bisa memulai dialog antar bangsa lebih jujur, lebih murni, dan menyentuh hati,” kata Moeldoko.
