“Saya berharap dialog antar dua maestro dituangkan di atas kanvas ini, bisa menjadi simbol awal bagi kebangkitan persaudaraan bangsa-bangsa di dunia,” tambahnya.
Karya “Dunia Dalam Damai” dibuat dalam suasana spontan itu akan menjadi titik awal kolaborasi jangka panjang antara dua seniman besar tersebut.
Nasirun dan Bunta sepakat bakal menggelar pameran bersama tahun depan. Menampilkan karya-karya kolaboratif terinspirasi nilai-nilai perdamaian, spiritualitas, dan persaudaraan lintas budaya.
Sebelumnya, dalam rangkaian acara Sakuranesia Friend-Ship di Expo 2025 Osaka, Moeldoko dan Iehiro Tokugawa telah memimpin diskusi bertema “Peace, Human Security & Dignity”.
Seni juga menjadi topik utama dalam upaya membangun diplomasi lintas bangsa. Pertunjukan tari, musik, pemberian kenang-kenangan budaya, dan tur ke Kota Nanto telah memperlihatkan komitmen kedua negara dalam menggunakan budaya sebagai jembatan damai.
Dalam dunia penuh ketegangan, seni seperti inilah yang menjadi narasi alternatif, menawarkan ruang dialog tidak penuh ego, melainkan empati. Sebuah bulatan luka bisa berubah menjadi taman harapan. Burung-burung damai bisa beterbangan di atas warna merah dan putih.
