Selama ini, lanjut dia, sektor perumahan dianggap terlalu ‘konsumtif’ untuk disentuh oleh KUR. Padahal, menurut Fahri, rumah bukan hanya soal dinding dan atap. Ia bisa menjadi sumbu produktivitas — tempat lahirnya warung kecil, salon rumahan, bahkan kantor rintisan.
“KUR memang besar ruangnya, tapi selama ini tidak boleh menyentuh perumahan karena dianggap konsumsi. Padahal rumah juga bisa jadi basis bisnis. Kita sedang menyusun skemanya agar lebih rinci,” pungkas Fahri Hamzah. (sol)
