Dalam studi yang dilakukan, tim peneliti mengintegrasikan lebih dari 20 tahun data mulai dari topografi, batimetri, perubahan garis pantai, penggunaan lahan, infrastruktur manusia, hingga aspek ekologis seperti persebaran mangrove. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma pembelajaran mesin. Hasil pemodelan menunjukkan tingkat akurasi sangat tinggi, rata-rata mencapai di atas 90 %. Akurasi ini penting untuk menghasilkan informasi probabilitas banjir yang dapat dijadikan dasar dalam perencanaan tata ruang maupun mitigasi bencana.
Selanjutnya, hasil prediksi tersebut divalidasi menggunakan pemodelan hidrodinamika MIKE21, sebuah perangkat simulasi dua dimensi yang digunakan untuk menghitung kedalaman dan luasan genangan berdasarkan kombinasi data pasang surut, gelombang laut, serta laju penurunan muka tanah. Hasil validasi menunjukkan adanya korelasi kuat antara prediksi model dan kondisi nyata di lapangan, dengan nilai tertinggi mencapai 0,72 pada tahun 2020.
Dengan menggabungkan hasil prediksi dan simulasi, teknologi ForeINTiFlood berhasil mengidentifikasi tiga titik utama masuknya banjir rob di Pekalongan, yaitu: titik tengah kota, wilayah pesisir barat, dan kawasan timur. Titik tengah terletak di area pusat kota dengan kepadatan bangunan tinggi serta mengalami penurunan tanah signifikan akibat eksploitasi air tanah. Sementara wilayah barat menunjukkan gejala kerusakan garis pantai dan degradasi mangrove yang berperan sebagai pelindung alami dari masuknya air laut ke darat. Adapun kawasan timur terdampak oleh dinamika muara sungai serta akumulasi sedimen yang mempercepat proses banjir saat pasang tinggi.

