Robertus juga menyoroti peluang kolaborasi riset dengan BRIN, termasuk program peneliti tamu, postdoktoral, dan penelitian bersama di pusat-pusat riset BRIN, seperti teknologi roket, satelit, aero-teknologi, hingga observatorium astronomi yang akan segera beroperasi. Harapannya, forum ini menjadi awal dari kerja sama riset yang lebih erat di kawasan Asia Tenggara.
Lebih lanjut, panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini menghadirkan 158 makalah dari 9 negara, termasuk Indonesia, China, Belanda, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
“Kami berharap forum ini dapat mendorong peningkatan kolaborasi riset di kawasan Asia, khususnya di bidang Aerospace Science and Technology. Beberapa program BRIN juga telah kami tawarkan untuk mendukung kerja sama regional dan internasional ke depannya,” ujar Matza Gusto, selaku panitia acara.
Tak hanya menjadi ajang presentasi ilmiah, SAWAE-ISAST 2025 juga menjadi forum strategis untuk memperluas kemitraan kelembagaan. Dalam kesempatan ini, panitia mengungkapkan bahwa akan disusun nota kesepahaman (MoU) antara BRIN dengan mitra regional, sebagai langkah lanjut dalam memperkuat kerja sama riset dan pengembangan teknologi dirgantara.
