“Acara ini beda dari biasanya. Kami diajak mikir, main, dan bisa tanya bebas soal internet,” ujar seorang siswa kelas 7 dari SMP di Kota Yogyakarta.
Siswa Aktif Bertanya, Guru Ikut Terlibat
Diuraikan Eva, sesi berlangsung sangat dinamis. Para siswa tak ragu mengajukan berbagai pertanyaan kritis—mulai dari cara mengenali akun palsu, memahami apa itu deepfake, hingga alasan kenapa hoaks bisa menyebar sangat cepat. Para guru pun tampak terlibat aktif, mengajak murid-muridnya berdiskusi dan memberi semangat untuk tidak takut bertanya.
“Anak-anak sangat pintar, tapi mereka juga butuh dibimbing. Mereka harus tahu bahwa internet bisa jadi tempat yang menyenangkan tapi juga berisiko,” ujar Eva Noor.
Salah satu fasilitator IWCS menambahkan, “Ini bukti anak-anak tidak hanya pakai internet, tapi juga peduli dan ingin paham. Kita tinggal beri ruang.”
Rikson Gultom dari BSSN mengatakan, “Anak-anak sangat antusias dan aktif. Mereka banyak bertanya, bahkan ada yang bertanya mengapa cyberbullying masih saja banyak padahal sudah banyak kampanye tentang perundungan siber. Ini topik yang sangat penting untuk anak-anak tahu.”
