Menurutnya, inisiatif seperti ini menjadi penguat dari upaya literasi digital yang menyasar kelompok usia muda, yang kerap menjadi sasaran empuk eksploitasi digital.
Museum Sandi Jadi Ruang Belajar yang Bersejarah
Tak seperti workshop pada umumnya, program ini digelar di Museum Sandi Yogyakarta, satu-satunya museum kriptografi di Indonesia. Museum ini menjadi latar edukasi yang sarat sejarah—mengenalkan pelajar pada pengamanan informasi di masa perjuangan kemerdekaan.
“Seru banget! Baru kali ini ikut kegiatan digital tapi di tempat bersejarah,” ujar salah satu siswi.
Melalui pengalaman ini, siswa diajak memahami bahwa perlindungan data dan informasi bukan hanya soal teknologi kekinian, tetapi juga bagian dari sejarah bangsa yang patut dihargai.
Tidak berhenti di ruang kelas, IWCS juga mendorong para siswa untuk menyebarkan kembali apa yang mereka pelajari kepada orang terdekat—seperti adik, tetangga, atau bahkan orang tua mereka sendiri.
“Anak-anak bisa jadi agen perubahan. Mereka bisa cerita ulang soal bahaya klik sembarangan atau pentingnya jaga privasi ke orang tua mereka sendiri,” ujar Eva Noor, Ketua IWCS.
