Dalam pidatonya, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menegaskan bahwa diplomasi budaya adalah salah satu bentuk resolusi konflik yang paling bermartabat dan berkelanjutan.
“Sebagai aktor formal, saya sudah selesai. Tapi sebagai prajurit, saya adalah prajurit yang tak pernah mati ‘Old soldier never die’. Kini saya memulih jalur budaya sebagai arena perjuangan,” ujar Moeldoko di hadapan para hadirin, Jumat (1/8/2025).
Moeldoko juga menyinggung nilai-nilai kemanusiaan diwariskan budaya Indonesia, seperti falsafah Jawa “Tata Titi Duduga Peryoga'”, yang sejajar dengan ajaran Bushido dari Jepang.
Nilai-nilai ini menjadi fondasi untuk membangun masa depan yang damai dan bermartabat.
Dalam kesempatan sama, lehiro Tokugawa, dalam kapasitas simbolisnya sebagai penerus klan Tokugawa, turut menekankan pentingnya menjaga warisan moral dan budaya leluhur sebagai kekuatan lembut (soft power) untuk memelihara stabilitas global.
Dalam acara tersebut, Wakil Wali Kota Nanto, Muneto Saito, mempersembahkan sebuah Hokora, kull kecil dengan ukiran khas Daerah Inami kepada perwakilan Indonesia.

