Moeldoko pun menutup pidatonya dengan ajakan simbolis kepada Tokugawa.
“Mari kita bermain di bawah Pohon Kuri, Tokugawa San. Kita bersama mewujudkan negara berperasaan, negara hadir bagi yang lemah, adil bagi yang berbeda, dan setia pada rasa kemanusiaan”.
Acara merupakan bagian dari proyek Inochi, Chikyuu, dan Mirai (Kehidupan, Bumi, dan Masa Depan) digagas oleh Yayasan Sakuranesia. Melalui pendekatan budaya yang inklusif dan bermakna, Sakuranesia hadir sebagai platform baru diplomasi antar bangsa mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan keberlanjutan.
“Dalam dunia yang makin keras dan kompetitif, pendekatan semacam ini menjadi oase menyegarkan bahwa perdamaian tak hanya diupayakan oleh negara-negara kuat, tapi juga oleh mereka yang punya hati dan kesadaran budaya,” pungkasnya. (Joesvicar Iqbal/msb)

