Siswa SMK akan merasa kesulitan masuk ke dunia kerja bila tidak pernah melihat langsung industri yang dituju yang biasanya diakomodasi melalui studi tur.
“Sebelum dia PKL (Praktik Kerja Lapangan), dia harus tahu dulu apa saja, bagaimana, apa yang dilakukan, bisnis prosesnya bagaimana, secara umum dia harus tahu dulu. Ketika kunjungan industrinya tidak ada, menjadi kesulitan,” ucap politisi Fraksi PKS ini.
“Memang namanya beda, kunjungan industri yang satu study tour gitu, ya. Nah, itu jadi bagian yang sangat penting untuk dipahami oleh pengambil kebijakan,” imbuhnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan yang tidak seragam dalam menyikapi kegiatan study tour dan kunjungan industri. Ia mendorong agar kebijakan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah dan siswa.
“Tidak semua bisa dipukul rata. Ada, harus ada tetap persyaratan dan kebutuhan, kebutuhan-kebutuhannya apa, bagaimana gitu. Di samping juga sekolah harus memikirkan juga, harus yang bagaimana yang lebih efisien, yang tidak memberatkan orang tua tapi anak tetap dapat ilmunya,” ujar Ledia.
