Namun, legitimasi pasca-Kongres tidak boleh berhenti di ranah formalitas. Tantangan terbesar adalah mengembalikan kepercayaan publik dan menyatukan sisa-sisa keterbelahan, terutama di aras bawah; pengurus tingkat propinsi, kabupaten, dan kota.
Sisi lain, pers Indonesia tengah menghadapi badai besar: disrupsi digital, krisis bisnis media, serta ancaman independensi akibat tekanan politik dan ekonomi. Untuk itu, PWI harus hadir sebagai jangkar moral, bukan sekadar wadah berkumpulnya wartawan. Kepemimpinan baru dituntut untuk membuka ruang dialog, memperkuat perlindungan profesi, sekaligus memperbarui organisasi agar relevan dengan kebutuhan zaman.
Akhirnya, mari bersatu, wujudkan persatuan, dan Bangkit Bersatu. Sejarah telah mencatat: Kongres Persatuan 2025 bukan hanya mengakhiri dualisme, tetapi juga menentukan arah legitimasi sejati PWI—yang tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga benar, berintegritas, dan dipercaya publik. #PWIBisa. *
