Ia melihat infrastruktur bukan sebagai beton dan aspal semata, melainkan sebagai sarana untuk memperbaiki kehidupan manusia, menghubungkan komunitas, dan merawat ciptaan Tuhan.
Dalam setiap proyek, ia membawa semangat pelayanan yang bersumber dari imannya sebagai seorang Katolik yang taat.
Joost Tambayong juga pernah menjabat sebagai Ketua Pemuda Katolik Sulawesi Utara dan Ketua Umum KBK Keuskupan Manado, dua posisi yang ia jalani bukan sebagai jabatan, tetapi sebagai bentuk pengabdian.
Ia percaya bahwa iman harus hadir dalam ruang publik, bukan sebagai dogma, tetapi sebagai etika dan tanggung jawab.
Dalam satu kesempatan yang tak terlupakan, ia mengundang saya berdialog di Seminari Pineleng, bukan karena formalitas, tetapi karena ketertarikannya yang tulus terhadap pemikiran-pemikiran yang melampaui teknokrasi.
Ia mendengarkan dengan hati, dan merespons dengan refleksi yang dalam.
Semasa kuliah, Joost adalah bagian dari komunitas intelektual muda yang sering berkumpul di kantor Gabsu di Jalan Sudarso.

