Kini, ketika ia telah kembali ke rumah Bapa, kita mengenangnya bukan dengan air mata semata, tetapi dengan rasa syukur.
Sebab dalam dirinya, kita melihat bahwa birokrasi bisa menjadi jalan kekudusan, bahwa teknik bisa berpadu dengan iman, dan bahwa hidup bisa dijalani dengan idealisme yang tidak pudar oleh waktu.
Joost Tambayong telah menyelesaikan perlombaan, dan warisannya adalah semangat untuk melayani dengan hati, berpikir dengan nurani, dan hidup dengan iman. Requiescat in pace.
#coversongs: Lagu “Requiem Aeternam (Introito)” yang dibawakan oleh Schola Gregoriana Mediolanensis di bawah arahan Giovanni Vianini dirilis pada 11 Maret 2014 oleh label Riverrecords.
Lagu ini merupakan bagian dari album Chorus Angelorum (Canto Gregoriano) yang menampilkan nyanyian liturgi Gregorian, khususnya dari Missa pro Defunctis (Misa untuk arwah).
Makna lagu “Requiem Aeternam” sangat mendalam dalam tradisi Katolik. Frase Latin ini berarti:
“Requiem aeternam dona eis, Domine, et lux perpetua luceat eis.” “Berikanlah kepada mereka istirahat yang kekal, ya Tuhan, dan terang abadi bersinar atas mereka.” ***

