Di sana, bersama rekan-rekan seangkatan seperti Ir. Yamin Pedju MSc, Ir. Pri Haryadi Mulyadi—yang dikenal sebagai penyanyi rock dan pernah menjabat Kadis PU Bolmong di era Bupati Marlina Moha Siahaan—mendiang Hardy, Samsuri, serta adik tingkat seperti Ir. Lucky Korah MSc(Walikota Manado 2000–2005) dan Ir. Bonny M. M. Ointu MSc(mantan dosen Fatek dan Plt. Bupati Bone Bolango dan Gorontalo Utara), mereka membentuk lingkaran diskusi yang tidak hanya membicarakan teknik, tetapi juga musik, filsafat, politik, dan spiritualitas.
Joost adalah jiwa yang menyatukan mereka, dengan ketenangan dan ketajaman berpikir yang khas.
Dalam perspektif Katolik, hidup adalah ziarah menuju Tuhan, dan setiap langkah di dunia adalah bagian dari pelayanan.
Joost menjalani ziarah itu dengan kesetiaan yang tenang. Ia tidak mencari sorotan, tetapi menjadi terang bagi mereka yang bekerja bersamanya.
Ia tidak membangun monumen, tetapi meninggalkan jejak dalam hati dan pikiran.
Ia adalah contoh dari apa yang disebut Santo Paulus sebagai “pelayan yang baik dan setia,” yang menjalankan tugasnya dengan kasih dan pengharapan.

