Namun, lanjut Felicia, perjalanan tidak berhenti di situ. Beberapa tahun lalu, dia menghadapi titik balik besar dalam hidupnya.
“Saat itu saya merasa segala hal dalam hidup, baik karier maupun hubungan, sudah tersusun dengan matang dan berjalan sesuai rencana. Namun, tiba-tiba semuanya berubah drastis. Saya merasa kehilangan kendali atas hidup saya. Di situlah saya mulai mengalami depresi,” kenangnya.
Lahirnya Ryse and Shyne
Sehingga dari pengalaman itu yang menggerakkan Felicia untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan yang merasakan hal serupa.
“Ketika saya berhasil pulih dari depresi, saya merasa kesembuhan ini harus punya makna lebih. Saya ingin membangun tempat agar perempuan bisa merasa aman, berdaya, dan pulih bersama. Tempat mereka bisa saling terhubung, saling mendukung, tanpa takut dihakimi atau malu jadi dirinya sendiri,” tambah Felicia.
Melalui Ryse and Shyne, Felicia membawa visi untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental perempuan di Indonesia.
“Isu kesehatan mental tak boleh dianggap sebagai aib. Gangguan kesehatan mental bisa dialami siapa pun, tak peduli latar belakang, cerita hidup atau kesuksesannya. Sayangnya, stigma dan mispersepsi masih begitu kuat, terutama terhadap perempuan. Semakin seseorang menyangkal apa yang para perempuan alami, semakin sulit untuk dikelola dengan tepat. Justru penerimaan adalah langkah pertama menuju pemulihan”.
