“Sebagian siswa belum sempat makan ketika ada himbauan dari sekolah. Tapi sebagian lainnya sudah terlanjur habis. Jadi mungkin tidak semua terdampak,” jelasnya.
Sebagai legislator sekaligus orang tua siswa, Pipit menilai kejadian ini harus menjadi bahan evaluasi serius bagi pemerintah dan pelaksana program.
“Sebagai orang tua, saya mendukung program ini karena baik untuk gizi anak-anak. Tapi pemerintah perlu lebih memperhatikan aspek kesehatan dan kualitas makanannya. Apalagi satu dapur bisa melayani sampai 3.000 porsi, tentu itu kurang maksimal,” tegasnya.
Ia menambahkan, pihak DPRD juga akan mendorong pengawasan lebih ketat agar program MBG tetap berjalan dengan aman dan berkualitas.
“Ini harus jadi evaluasi bersama, termasuk untuk kami di DPRD. Tapi karena program ini merupakan kebijakan langsung dari Presiden, kami akan terus mengawal agar pelaksanaannya di lapangan lebih aman,” tutupnya.
Sebelumnya, diketahui sebanyak 132 siswa SMPN 1 Cisarua mengalami gejala keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis yang disediakan di sekolah tersebut. Para siswa dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Cisarua dan Lembang untuk mendapatkan perawatan medis.(Vinolla)
