IPOL.ID – Krisis politik mengguncang Madagaskar. Unit pasukan elite militer, CAPSAT mengumumkan bahwa mereka telah mengambil alih kekuasaan dari Presiden Andry Rajoelina, yang dilaporkan telah kabur.
Kekacauan politik yang memuncak ini bermula dari gelombang demonstrasi yang dipimpin oleh kelompok anak muda Gen Z. Aksi protes berlangsung selama sembilan hari sejak 25 September, dipicu oleh kesalahan tata kelola pemerintahan, serta masalah pemutusan aliran listrik dan air.
Aksi massa tersebut memakan korban 22 orang tewas dan lebih dari 100 orang terluka.
Rajoelina sempat berupaya meredakan situasi dengan membubarkan pemerintahannya, namun langkah tersebut gagal menenangkan massa yang kemudian menuntut Rajoelina mundur sebagai presiden.
Komandan CAPSAT, Kolonel Michael Randrianirina menyatakan militer akan segera membentuk pemerintahan transisi dan berjanji akan menggelar pemilihan umum (pemilu) dalam jangka waktu dua tahun.
Ia juga menangguhkan sejumlah institusi demokrasi utama, termasuk komisi pemilihan umum.
