IPOL.ID – Bagi Bahlil Lahadalia, listrik bukan sekadar cahaya yang menyalakan rumah, melainkan simbol pemerataan keadilan sosial. Dalam setiap kilowatt energi yang mengalir ke desa terpencil, ada cerita tentang perjuangan, harapan, dan masa depan Indonesia.
Di tengah gelaran Malam Penganugerahan Penghargaan Subroto 2025 di Jakarta, Bahlil berbicara dengan nada optimistis. Pemerataan energi, katanya, bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan ikhtiar panjang untuk menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote.
“Masih ada ribuan desa yang belum teraliri listrik. Masa sudah 80 tahun merdeka, tapi masih ada anak bangsa belajar dalam gelap?” ujarnya lantang, disambut tepuk tangan peserta malam penghargaan itu.
Kementerian ESDM kini tengah menjalankan serangkaian program prorakyat—mulai dari pemanfaatan sumur minyak rakyat, listrik desa (lisdes), bantuan pasang baru listrik (BPBL), hingga pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di setiap kelurahan.
Langkah-langkah ini menjadi bukti bahwa energi bukan hanya milik industri besar, tapi juga hak setiap warga untuk hidup lebih layak.
