Sementara itu, porsi utang dari SBN justru menurun dari Rp8.029,53 triliun pada Mei menjadi Rp7.980,87 triliun pada Juni 2025. SBN masih didominasi oleh denominasi rupiah, dengan nilai Rp6.484,12 triliun, turun dari sebelumnya Rp6.524,44 triliun.
Adapun SBN berdenominasi valuta asing (valas) tercatat Rp1.496,75 triliun, turun dari Rp1.505,09 triliun.
“Jadi Juni total outstanding utangnya Rp9.138 triliun, pinjamannya Rp1.157 triliun dan SBN Rp7.980,87 triliun,” sebutnya.
Ia juga mengungkapkan adanya perubahan kebijakan terkait publikasi data utang pemerintah. Mulai tahun 2025, pemerintah akan merilis data utang secara triwulanan atau setiap tiga bulan, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Perubahan ini dilakukan untuk meningkatkan kredibilitas statistik utang dengan menyesuaikannya pada ukuran PDB nasional yang juga dirilis setiap kuartal oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
“Supaya statistiknya lebih kredibel. Agar rasio itu tidak berdasarkan asumsi, tapi berdasarkan realisasi. Nanti debt to GDP ratio (dirilis) setiap tiga bulan,” ujar dia. (far)
