Kritik juga datang dari kalangan akademisi. Seorang Dosen Ilmu Politik di Sulawesi Barat menyebut insiden tersebut sebagai tamparan keras bagi proses kaderisasi politik di Indonesia.
“Wakil rakyat seharusnya tidak hanya bisa berbicara, tapi berbicara dengan isi dan wibawa. Ketika pimpinan dewan kesulitan membaca pidato, ini memperlihatkan lemahnya seleksi calon legislatif,” jelasnya.
Menurutnya, peristiwa ini mencoreng citra lembaga legislatif yang seharusnya menjadi simbol kecerdasan dan kredibilitas di mata masyarakat.
Video tersebut kini telah menyebar di berbagai platform media sosial, memancing beragam komentar dari warganet. Banyak yang mendesak agar DPRD Pasangkayu memberikan klarifikasi resmi terkait insiden tersebut dan tidak sekadar menanggapinya sebagai “kesalahan teknis” atau “grogi.”
Sebagian publik menilai bahwa kejadian ini harus dijadikan alarm bagi lembaga DPRD di seluruh Indonesia agar lebih memperhatikan kualitas sumber daya manusia yang mewakili rakyat.
Kejadian ini juga menjadi pengingat penting bagi partai politik, agar tidak hanya mengutamakan elektabilitas calon legislatif, tetapi juga kompetensi dan kemampuan tampil di ruang publik.
