Awi menegaskan bahwa masyarakat tidak menutup mata terhadap instruksi gubernur, namun bagi warga terdampak banjir, yang dibutuhkan adalah tindakan cepat dan kehadiran nyata.
Ia menyebut bahwa keberadaan gubernur di lokasi bencana akan memberi kepastian bahwa penanganan berlangsung maksimal dan menjadi pesan bahwa pemerintah ada bersama rakyat dalam situasi paling sulit. Tidak sedikit warga, kata Awi, yang tetap terjebak di lantai dua rumah sambil menunggu kedatangan perahu karet.
“Kondisi listrik yang padam dan minimnya akses komunikasi membuat sebagian korban tidak dapat meminta pertolongan dengan efektif,” ujar dia.
Di sisi lain, pemerintah provinsi menyatakan bahwa seluruh jajaran teknis kini bekerja di lapangan. Namun kritik Awi menunjukkan adanya celah antara kebijakan tertulis dan pelaksanaan di daerah.
Menurutnya, banjir besar seperti ini bukan yang pertama bagi Aceh, sehingga mekanisme respons cepat seharusnya sudah berjalan otomatis tanpa menunggu keadaan semakin parah. Ia berharap instruksi gubernur yang telah dikeluarkan benar-benar diterjemahkan menjadi langkah konkret oleh pemerintah kabupaten/kota.
