Sementara itu, Joko Anwar menyampaikan rasa terima kasihnya dan merefleksikan perjalanan kreatifnya. Ia menjelaskan filosofi di balik karya-karyanya yang kerap mengangkat isu ketidakadilan dan kekuasaan.
“Melalui cerita-cerita yang dibungkus dalam horor, thriller, atau komedi, saya berusaha membicarakan hal-hal yang sering kali sulit dibicarakan secara langsung, tentang ketidakadilan, tentang kekuasaan, tentang manusia dan lingkungan tempat ia berpijak,” kata Joko dalam keterangannya yang diterima, Jumat (12/12).
Dia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Prancis serta refleksi atas perjalanan kreatifnya sebagai pembuat film yang tumbuh dan berkarya di Indonesia.
Penghargaan ini diberikan di tengah persiapan Joko Anwar merilis film terbaru berjudul Ghost in the Cell, yang dijadwalkan tayang pada 2026. Karya ke-12 tersebut merupakan film horor-komedi berlatar penjara yang menggunakan metafora untuk membahas kerusakan lingkungan, dinamika kekuasaan, serta tanggung jawab moral.
