Menurut Nanik, pendekatan kreatif seperti penggunaan kostum tokoh favorit anak terbukti efektif untuk meningkatkan minat siswa mengonsumsi makanan sehat, terutama sayuran. Ia pun mengapresiasi kepala SPPG, akuntan, ahli gizi, mitra, serta relawan dapur yang telah berinovasi dalam memberikan pendidikan gizi kepada anak-anak.
Selain itu, Nanik menekankan pentingnya kemampuan berbicara di depan publik bagi kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi. Menurutnya, mereka perlu terlatih menyampaikan pesan gizi di berbagai forum, mulai dari sekolah, PKK, hingga tingkat kelurahan, guna menjelaskan manfaat dan tujuan program MBG kepada masyarakat.
Ia berharap unsur SPPG dapat tampil bersama para guru di sekolah untuk memberikan penjelasan mengenai kandungan gizi dalam setiap paket MBG serta manfaatnya bagi pertumbuhan dan kesehatan anak.
“Minta waktu satu jam untuk menjadi guru di kelas, nanti bergantian ke kelas berikutnya. Jelaskan soal pentingnya makan bergizi,” kata Nanik.
Lebih lanjut, Nanik menyebut SPPG juga dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan di puskesmas, kader posyandu, dan PKK dalam memberikan penyuluhan gizi kepada ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Kolaborasi dengan pemerintah desa dan kelurahan juga dinilai penting untuk memperluas edukasi gizi melalui forum-forum masyarakat.
