IPOL.ID – Ahli arkeologi dan geokimia dari Griffith University dan Southern Cross University, Prof Maxime Aubert menyampaikan temuan penanggalan gambar cadas atau rock art di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers publikasi jurnal nature, yang diselenggarakan di Gedung BJ Habibie, Jakarta, baru-baru ini.
Dalam paparannya, Prof Maxime menjelaskan secara rinci bagaimana ilmuwan memastikan umur lukisan prasejarah tersebut. Untuk mengetahuinya, dia memakai teknik penanggalan laser-ablation uranium-series (LA–U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis yang menutupi lukisan gua.
Menurut Prof. Maxime, prinsip penanggalan seni cadas sebenarnya sederhana, namun sangat presisi. Prosesnya berawal dari air hujan yang meresap ke dalam batu kapur gua.
“Air hujan meresap melalui batu kapur, melarutkan sedikit kalsium dan uranium. Ketika air mengalir di atas permukaan seni cadas, air itu mengendap dan membentuk lapisan tipis di atas lukisan,” jelas Maxime, melasir Minggu (25/1/2026).
