Ipol.idIpol.id
Aa
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Reading: Ilmuwan Indonesia Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa dan Sumatra Tertinggi
Share
Ipol.idIpol.id
Aa
Cari berita disini...
  • Home
  • News
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jakarta Raya
    • Nusantara
  • Internasional
  • Politik
  • Hukum
  • Kriminal
  • Ekonomi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Si Ipol
  • Opini
  • More
    • Video
    • Gaya hidup
    • Sosok
    • Tekno/Science
    • Galeri
    • Indeks Berita
Follow US
  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Ipol.id > Tekno/Science > Ilmuwan Indonesia Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa dan Sumatra Tertinggi
Tekno/Science

Ilmuwan Indonesia Ungkap Faktor Emisi Karbon Lamun Indonesia, Jawa dan Sumatra Tertinggi

Iqbal
Iqbal Published 16 Jan 2026, 18:25
Share
6 Min Read
padang lamun brin
Padang lamun merupakan penyerap karbon utama dan tempat pembibitan yang sangat produktif bagi banyak spesies laut. Foto: BRIN
SHARE

Faktor Emisi Karbon Lamun

Dalam riset ini, A’an mengenalkan metode perhitungan faktor emisi karbon lamun. Faktor emisi adalah angka yang menggambarkan seberapa besar karbon yang dilepaskan ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat degradasi atau gangguan. “Dalam konteks ekosistem lamun, faktor emisi menunjukkan laju kehilangan karbon yang sebelumnya tersimpan di dalam biomassa lamun, dan berpotensi juga mencerminkan proses awal pelepasan karbon dari sistem pesisir,” jelas A’an.

Selama ini, Indonesia masih menggunakan faktor emisi global (Tier-1 IPCC) untuk menghitung emisi karbon dari lamun. “Padahal, kondisi lamun Indonesia, baik dari sisi tekanan aktivitas manusia, dinamika pesisir, maupun stok karbon, sangat beragam dan tidak bisa diwakili oleh angka rata-rata global,” ujar A’an.

Wilayah pesisir di Jawa dan sebagian Sumatra memiliki tekanan antropogenik yang jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan timur Indonesia yang relatif lebih alami.

Untuk mengatasi keterbatasan data seri jangka panjang, A’an menggunakan pendekatan chronosequence modeling. Metode ini membandingkan kondisi padang lamun yang masih relatif baik dengan yang telah terdegradasi, untuk memperkirakan perubahan kondisi karbon dari waktu ke waktu.

Baca Juga

IMG 20260521 WA0057
BRIN: El Nino 2026 Diperkirakan Moderat, tapi Kemarau Lebih Panjang Tetap Perlu Diwaspadai
Dari Sampah Jadi Energi: Teknologi Faspol BRIN Siap Direplikasi di 5 Lokasi di Kendal
Indonesia Ungkap PUMMA, Alat Pemantau Tsunami Buatan dalam Negeri

“Hampir tidak ada data yang merekam kondisi lamun 10 atau 20 tahun lalu. Yang kita punya hanya kondisi saat ini. Maka, wilayah yang lamunnya masih bagus seperti Nusa Tenggara Timur kita anggap sebagai referensi masa lalu,” kata A’an.

Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor emisi karbon lamun di Indonesia berada pada kisaran 0,53 hingga 3,25 ton karbon per hektare per tahun. Nilai tertinggi ditemukan di wilayah dengan tekanan pesisir tinggi, terutama Jawa dan sebagian Sumatra. Sebaliknya, wilayah seperti Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, dan Maluku menunjukkan nilai faktor emisi yang lebih rendah.

“Tekanan antropogenik di wilayah padat penduduk membuat potensi emisinya lebih besar,” ujar A’an.

Temuan ini mengindikasikan bahwa kerusakan satu hektare padang lamun di wilayah barat Indonesia dapat menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih besar dibandingkan kerusakan dengan luasan yang sama di wilayah timur. Dengan kata lain, lokasi degradasi menjadi faktor penting dalam perhitungan emisi karbon lamun secara nasional.

Melalui riset ini, Indonesia didorong untuk mulai beralih dari pendekatan Tier-1 menuju Tier-2, yakni penggunaan faktor emisi yang lebih spesifik dan mencerminkan kondisi nasional. Meski demikian, A’an menegaskan bahwa angka faktor emisi yang dihasilkan saat ini masih bersifat awal.

“Faktor emisi yang saya hitung baru berdasarkan karbon biomassa lamun, seperti dari daun dan akar. Padahal, cadangan karbon terbesar justru ada di sedimennya,” katanya.

Ke depan, A’an menyebut bahwa penggabungan data biomassa dan sedimen diperlukan agar perhitungan faktor emisi karbon lamun menjadi lebih presisi dan dapat mendukung kebutuhan pelaporan penurunan emisi karbon nasional, termasuk dalam kerangka Nationally Determined Contribution (NDC).

Untuk menjaga ekosistem lamun agar tetap lestari, ia menekankan pentingnya regulasi yang kuat, implementasi yang konsisten, serta keterlibatan masyarakat pesisir, mulai dari pengelolaan sampah hingga praktik pembangunan yang lebih ramah lingkungan.

Lebih jauh, A’an menyoroti urgensi sistem pemantauan laut jangka panjang. Indonesia membutuhkan sistem pengamatan laut nasional (Indonesia Ocean Observing System/IOOS), yang tidak hanya memantau aspek fisik, tetapi juga aspek biogeokimia dan ekosistem laut.

Riset ini menegaskan bahwa kondisi ekosistem lamun menentukan apakah karbon tetap tersimpan di dalam sistem atau justru terlepas ke atmosfer ketika terjadi degradasi, sekaligus menunjukkan pentingnya memahami variasi regional dalam upaya penghitungan emisi karbon pesisir Indonesia. (ahmad)

Previous Page12
GN

Follow Akun Google News Ipol.id

Jangan sampai kamu ketinggalan update berita menarik dari kami
TAGGED: brin, emisi karbon, jawa, Lamun, sumatra
Share this Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Copy Link
Previous Article Tunggal Putra Indonesia, Jonatan Christie. Jojo Lolos ke Semifinal
Next Article Putriana Hamda Dakka Saat Melapor di Bareskrim Polri. Foto/ist Polisi Tetapkan Dokter Resti sebagai Tersangka Kasus Pencemaran Nama Baik Putri Dakka

TERPOPULER

TERPOPULER
IMG 20260718 WA0061
Gaya hidup

Terungkap Sejak Zaman Dahulu Nanas Dijadikan Obat Tradisional Alami

Olahraga
MilkLife Athletics Challenge Seri 1 2026: Perluas Jalur Pembinaan Atletik dari KU 8 hingga KU 18
18 Jul 2026, 18:47
News
Dewan Pers Siapkan Terobosan, Berita Wartawan Bakal Dilindungi Hak Cipta dan Hasilkan Royalti
18 Jul 2026, 09:29
Nusantara
Ayah Wa Raih Pimred Award 2026, Masuk Deretan Tokoh Aceh Penerima Penghargaan Bergengsi
18 Jul 2026, 12:37
HeadlineNews
HUT ke-3 FPRMI, Bernadus Wilson Lumi Ajak Organisasi Pers Bersatu dan Tingkatkan Etika Jurnalistik
18 Jul 2026, 09:39
Ipol.idIpol.id
Follow US

IPOL.ID telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor 1084/DP-Verifikasi/K/IV/2023
https://dewanpers.or.id/data/perusahaanpers

Copyright © IPOL.ID. All Rights Reserved.

  • Redaksi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Standar Perlindungan Profesi Wartawan IPOL.ID
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
Logo Ipol.id Logo Ipol.id
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?