IPOL.ID-Pada tahun 1957, ketika usia Republik Indonesia masih belia dan semangat mempertahankan kemerdekaan belum sepenuhnya reda, sekelompok anak muda mantan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) memperoleh izin tinggal tetap dari Kantor Urusan Perumahan Kota Bandung untuk menempati sebuah rumah di Jalan Flores No. 1, Bandung.
Mereka adalah generasi yang lahir dari rahim revolusi—para pejuang muda yang kemudian memilih melanjutkan perjuangan melalui jalur pendidikan tinggi.
Dengan menyandang dwi status sebagai mahasiswa sekaligus militer, mereka memikul tanggung jawab ganda: menjaga idealisme kebangsaan sekaligus mengembangkan kapasitas intelektual.

Pilihan ini menandai kesadaran awal bahwa pendidikan adalah instrumen strategis perjuangan, bukan sekadar mobilitas sosial individual.
