Seiring meningkatnya jumlah mahasiswa asal Sulawesi Selatan yang menempuh studi di Bandung, pada tahun 1960 Kantor Urusan Perumahan Kodya Bandung kembali menerbitkan Surat Izin Tinggal Tetap untuk bangunan di Jalan Flores No.1.
Sejak saat itulah fondasi legal dan historis keberadaan Asrama Lontara terbangun secara kokoh.Berkembang Menjadi Institusi (1960–kini): Asrama sebagai Ruang Tempa Karakter Sejak awal 1960-an hingga kini, rumah di Jalan Flores No. 1 berfungsi tanpa putus sebagai Asrama Mahasiswa Sulawesi Selatan LONTARA—kurang lebih tujuh dekade lintasan generasi.
Asrama ini tidak lagi dimaknai secara konvensional sebagai tempat tinggal, melainkan tumbuh menjadi lembaga pembinaan, pendidikan, dan kaderisasi.
Hidup berasrama melatih penghuninya untuk berpikir kolektif, membangun solidaritas, menghargai perbedaan, dan saling menolong.
Dengan perangkat organisasi, AD/ART, serta tradisi musyawarah, Asrama Lontara menjadi laboratorium kepemimpinan dan pusat kegiatan mahasiswa lintas daerah dan lintas perguruan tinggi di Bandung.
