Selain itu, periset PRTPP Bakti Berlyanto Sedayu menyoroti tingginya kebutuhan industri terhadap teknologi perpanjangan masa simpan pangan. “Sebagian besar permintaan dari industri adalah teknologi untuk memperpanjang umur simpan produk. Ini peluang besar bagi riset pangan BRIN untuk menghasilkan teknologi siap guna,” ujarnya.
Mengakhiri rangkaian kegiatan, Kepala BRIN bersama Wakil Kepala BRIN dan jajaran manajemen meninjau sejumlah fasilitas laboratorium di KST Umar Anggara Jenie, Gunungkidul. Peninjauan dilakukan ke Laboratorium Kimia Terpadu, Laboratorium Multiproses Pangan, Laboratorium Mikrobiologi dan Biomolekuler Pangan, Laboratorium Proses Non-Halal, serta Workshop riset pendukung teknologi pangan.
Dalam kunjungan tersebut, Arif berdialog langsung dengan periset dan pengelola laboratorium untuk melihat kesiapan infrastruktur riset sekaligus menyerap masukan terkait kebutuhan peningkatan fasilitas. “Fasilitas laboratorium ini adalah fondasi hilirisasi riset pangan BRIN. Kita ingin memastikan inovasi yang lahir dari Gunungkidul benar-benar siap diterapkan dan dimanfaatkan Masyarakat. Saya melihat ada banyak pertanyaan kebutuhan teknologi Indonesia dalam bidang pangan saya temukan dan akan mampu dijawab dengan adanya fasilitas dan periset dari Kawasan gunungkidul ini,” pungkas Arif. (ahmad)
