“Sebagai contoh, yang dari daerah biasa memasok ke Jakarta, pedagang Jakarta belanja untuk dijual eceran, jangan mereka (pemasok luar Jakarta) turun langsung ke Jakarta dengan jual harga supplier. Itu akhirnya malah merusak pasar,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Chaerullah menyebutkan, kondisi itu pernah terjadi saat bisnis batu akik-permata meroket pada periode 2015 lalu.
Ketika itu, pihak-pihak yang seharusnya tetap berada di daerah itu ikut turun langsung ke Pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur.
Pasar Rawa Bening sendiri merupakan pusat penjualan batu akik terbesar di Tanah Air. Imbasnya, alur bisnis batu akik di pasar ini menjadi berantakan.
“Ekosistemnya jadi hancur-hancuran,” tandas Chaerullah.
Atas dasar itu, dia menegaskan, semua pihak yang berperan dalam bisnis batu permata dan akik dari hulu sampai hilir harus tetap berada di sektornya masing-masing.
“Jadi saling berbagi, yang bagian cutting ya cutting, bagian menggosok ya menggosok, atau yang supplier boleh memasok ke pedagang. Jangan harga supplier dikasih ke customer langsung. Akhirnya pedagang satuan rusak,” tukasnya.
