Hilman juga mengajak semua pihak menyikapi dinamika yang berkembang secara proporsional, termasuk dalam merespons kasus bunuh diri anak di NTT yang memicu keprihatinan publik. Ia menilai kritik terhadap penanganan kasus semestinya dijawab dengan klarifikasi dan perbaikan kebijakan, bukan dengan ancaman.
“Semua pasti berduka, saya juga sangat prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT, tapi menyikapi hal itu juga perlu keterbukaan hati, kekuatan pikir, dan setiap kritik terhadap penanganan kasusnya harus disikapi dengan bijak, bukan malah dengan teror,” kata Hilman.
Aksi teror yang dialami Tiyo Ardianto diketahui terjadi empat hari setelah BEM UGM melayangkan kritik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pihak mahasiswa menilai pemerintah gagal menjamin hak dasar anak menyusul tragedi memilukan di NTT.
Tiyo dilaporkan menerima pesan ancaman melalui aplikasi WhatsApp dari nomor misterius berkode negara Inggris.
Dalam pesan tersebut, pengirim mengancam akan menculik Tiyo serta menuduhnya sebagai agen asing yang mencari perhatian.
