“Kata orang, kalau tidak perawan tidak bisa jadi Polwan,” ucap ANI dengan suara bergetar, Minggu (1/2/2026).
Ucapan tersebut menggambarkan tekanan mental yang kini membebani hidupnya. Ia mengaku kehilangan kepercayaan diri dan keberanian untuk mengikuti seleksi kepolisian yang rencananya akan dibuka pada 2026.
“Saya dipaksa dan dilecehkan. Bukannya ditolong, malah ikut melakukan,” katanya lirih.
Keluarga menyebut sejak kejadian itu ANI lebih banyak mengurung diri di kamar, membatasi interaksi sosial, dan sempat mengalami depresi berat. Bahkan, korban pernah mengungkapkan keinginan untuk mengakhiri hidup. Beruntung, keluarga segera memberikan pendampingan intensif sehingga kondisi tersebut dapat dicegah.
Berdasarkan keterangan keluarga dan kuasa hukum, peristiwa ini diduga melibatkan empat pria, terdiri dari dua oknum polisi aktif, dua calon anggota polisi yang akan mengikuti seleksi tahun 2026, serta seorang warga sipil yang disebut memiliki latar belakang keluarga tokoh agama di Jambi.
Kasus ini menjadi sorotan luas karena kembali mempertanyakan komitmen institusi penegak hukum dalam menjaga integritas dan melindungi warga, terutama perempuan dan kelompok rentan.
