Akbar, yang telah menjadi ikon di kawasan Left Bank, mengaku menemukan kebahagiaan dari pekerjaannya. Dalam wawancara dengan Reuters pada Agustus lalu, ia mengatakan bahwa berjalan kaki menyusuri Paris setiap hari adalah bentuk cinta.
“Ini adalah ciinta. Kalau hanya untuk uang, saya bisa melakukan pekerjaan lain. Tapi saya menikmati kebersamaan dengan orang-orang di sini,” ujar Akbar.
Lahir di Rawalpindi, Pakistan, Akbar tiba di Paris pada 1973. Ia sempat menghadapi persoalan visa dan hidup dalam keterbatasan. Demi membantu orang tua dan tujuh saudaranya di kampung halaman, ia bertekad mencari pekerjaan apa pun yang bisa menopang hidup.
Kesempatan datang ketika seorang mahasiswa asal Argentina yang menjual majalah satir mengajaknya bergabung menjadi penjual koran. Dengan senyum ramah, selera humor tinggi, dan kegigihan berjalan kaki berjam-jam setiap hari, Akbar perlahan membangun reputasi.
Pada siang hari, ia melayani tokoh-tokoh penting Prancis, termasuk mantan Presiden François Mitterrand dan mahasiswa Sciences Po yang kelak menjadi elite politik, di antaranya Emmanuel Macron dan mantan Perdana Menteri Édouard Philippe.
