“Dulu, semua serba lokal. Ada pasar kecil, tukang daging, penjual ikan. Semua saling mengenal. Sekarang, setiap hari selalu ada wajah baru,” tutur Akbar.
Dalam pidatonya, Macron menyoroti perjalanan hidup Akbar yang penuh perjuangan. Ia mengisahkan masa kecil Akbar yang diliputi kemiskinan, kerja paksa, dan kekerasan, hingga perjalanan panjang melintasi Afghanistan, Iran, Turki, dan Yunani demi mencapai Eropa.
“Namun, Anda tidak pernah menyerah,” kata Macron.
Meski telah menerima penghargaan bergengsi, Akbar menegaskan belum berniat pensiun. Ia bertekad tetap menjual koran selama tenaganya masih ada.
“Pensiun? Nanti saja di pemakaman,” ujarnya sambil tertawa. (far)
