Pada malam hari, di masa-masa awal, ia tidur di bawah jembatan atau kamar sempit demi menghemat uang untuk dikirim ke keluarganya di Pakistan.
Seiring berjalannya waktu, wajah Akbar menjadi bagian dari lanskap kultural Saint-Germain-des-Prés. Ia dikenal luas oleh para pelanggan setia.
“Ali adalah sebuah institusi. Tanpa Ali, Saint-Germain-des-Prés tidak akan sama,” kata Marie-Laure Carrière, seorang pengacara.
Namun, perubahan zaman turut memukul industri media cetak. Jika dulu Akbar bisa menjual hingga 200 eksemplar koran per hari, kini angka itu merosot drastis.
“Saya sekarang hanya menjual sekitar 20 eksemplar Le Monde dalam delapan jam. Semua sudah digital. Orang-orang tak lagi membeli koran,” katanya.
Meski demikian, semangatnya tak pernah surut. Ia tetap menjajakan koran dengan humor dan energi positif.
“Saya berusaha membuat orang tertawa, menciptakan suasana. Saya mencoba masuk ke hati mereka, bukan ke kantong mereka,” ujarnya.
Penganugerahan gelar kehormatan ini dipandang sebagai penghormatan atas cara hidup yang kian tergerus zaman. Saint-Germain-des-Prés, yang dahulu menjadi pusat kehidupan intelektual tokoh-tokoh besar seperti Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, kini berubah wajah.
