Saat berbuka puasa, ia menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan cairan terlebih dahulu, disertai sumber energi yang cukup dan asupan gizi seimbang. Secara medis, tidak ada keharusan untuk selalu memulai berbuka dengan makanan atau minuman tinggi gula tambahan.
“Yang dibutuhkan tubuh adalah rehidrasi dengan air putih, sumber energi yang cukup serta asupan zat gizi seimbang,” katanya.
Sebagai alternatif takjil, Luthfianti menyarankan konsumsi 1–3 butir kurma atau buah utuh dibandingkan minuman sirup atau teh dengan gula berlebih. Rasa manis alami dari buah dinilai lebih baik karena mengandung serat yang membantu menjaga kestabilan gula darah.
Secara global, World Health Organization (WHO) merekomendasikan konsumsi gula tambahan kurang dari 10 persen total kebutuhan energi harian, bahkan lebih baik jika di bawah 5 persen.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan batas konsumsi gula maksimal 50 gram per hari atau setara sekitar empat sendok makan.
Konsumsi gula yang melampaui batas tersebut dalam jangka panjang berisiko memicu berbagai masalah kesehatan, seperti diabetes, obesitas, hingga gangguan kesehatan gigi.
