IPOL.ID – Tragedi meninggalnya YBS, siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan luka mendalam sekaligus tamparan keras bagi negara. Bocah berusia 10 tahun itu diduga mengakhiri hidupnya setelah tak mampu membeli buku dan alat tulis seharga Rp10 ribu.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyebut peristiwa tersebut sebagai sinyal kegagalan bersama dalam menjangkau warga miskin ekstrem. Ia menegaskan, negara tidak boleh lagi kecolongan dalam urusan pendataan dan pendampingan keluarga rentan.
“Kami sangat prihatin. Ini harus menjadi perhatian semua pihak, bukan hanya Kementerian Sosial, tetapi juga pemerintah daerah,” ujar Gus Ipul, dikutip Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, penguatan basis data menjadi kunci utama agar masyarakat pada kategori miskin ekstrem (desil-1) dan miskin (desil-2) tidak terlewat dari perlindungan sosial. Tanpa data yang akurat, program bantuan berisiko salah sasaran dan meninggalkan mereka yang paling membutuhkan.
“Pendataan sangat penting untuk memastikan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan benar-benar menjangkau keluarga yang membutuhkan,” kata dia.
