“Dana triliunan masuk ke NTT, tapi masih ada anak meninggal karena tak sanggup beli alat tulis. Ini bukan sekadar sedih, ini kegagalan,” katanya.
Melki menyebut tragedi tersebut mencerminkan runtuhnya pranata sosial, mulai dari keluarga, lingkungan, hingga struktur pemerintahan. Ia mengaku baru mengetahui kasus itu setelah kegiatan rapat koordinasi nasional, dan menyebut reaksi pemerintah pusat pun sangat keras.
“Kalau Presiden tahu kejadian seperti ini, pasti marah besar. Ini bukan soal siapa salah, tapi jelas ada yang tidak berjalan dalam sistem kami,” ujarnya.
Kematian BS bahkan memicu perhatian nasional. Melki mengungkapkan dirinya menerima banyak panggilan dari menteri-menteri kabinet yang mempertanyakan kondisi sosial di daerah.
“Ini jadi sorotan karena penyebabnya kemiskinan ekstrem. Tapi di luar sana, bisa jadi masih banyak anak lain hidup dalam kondisi serupa,” katanya.
Tak hanya itu, Melki juga menyesalkan lambannya respons pemerintah daerah Ngada. Ia mengaku telah menghubungi pimpinan daerah setempat, namun respons yang diterima dinilainya tidak cepat.
