“Saya sampai harus kirim orang saya sendiri untuk turun langsung. Ini soal nyawa anak, bukan urusan administratif,” tegasnya.
Ia juga menyentil absennya perwakilan pemerintah daerah dalam prosesi pemakaman korban. Menurutnya, kehadiran negara, sekecil apa pun, sangat penting sebagai bentuk tanggung jawab moral.
“Pemerintah daerah harus hadir. Urus makamnya. Kalau tidak, ini mempermalukan kami semua sebagai pemerintah,” kata Melki dengan nada emosional.
Seperti diketahui, BS ditemukan tewas tergantung di pohon cengkeh pada Kamis (29/1/2026). Lokasi kejadian tak jauh dari pondok tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun. Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibunya.
Dari hasil penyelidikan, korban disebut sempat meminta uang untuk membeli buku tulis dan pena. Namun permintaan itu tak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat terbatas.
Bagi Melki, tragedi ini bukan sekadar peristiwa kriminal atau persoalan keluarga miskin semata. Ia menilai, kematian seorang anak karena alasan sesederhana alat tulis sekolah adalah bukti bahwa negara belum sepenuhnya hadir.
