Dalam pernyataan lainnya, Safa juga menyinggung adanya narasi global yang menurutnya sengaja dibangun untuk membentuk opini publik terkait ancaman nuklir Iran. Ia menilai narasi tersebut tidak sepenuhnya netral dan berpotensi digunakan sebagai pembenaran untuk eskalasi konflik yang lebih luas.
Selain itu, Safa mengungkap adanya tekanan internal di lingkungan PBB, termasuk dugaan pengaruh “lobi kuat” yang memengaruhi kebijakan lembaga tersebut. Ia bahkan mengaku mengalami ancaman dan pembatasan kebebasan berbicara sejak menyuarakan kritik terhadap konflik di Gaza dan kawasan Timur Tengah.
Menurut Safa, kondisi ini membuat dirinya tidak lagi dapat mempertahankan posisi di dalam sistem yang dianggap tidak adil. Ia menegaskan bahwa pengunduran dirinya merupakan bentuk protes terhadap arah kebijakan global yang dinilai semakin menjauh dari prinsip kemanusiaan.
Pernyataan Safa ini memicu perhatian luas di media sosial, terutama terkait dugaan bahwa PBB tidak hanya memantau, tetapi juga mulai mengantisipasi skenario perang nuklir. Dalam salah satu unggahan yang beredar, ia menyebut dunia belum sepenuhnya memahami betapa seriusnya situasi yang sedang berkembang.
