Dalam konteks keselamatan nuklir, Zainal menegaskan pentingnya penguatan sistem pengawasan, termasuk pengawasan terhadap pengelolaan limbah radioaktif yang dihasilkan dari kegiatan nuklir. Pengelolaan limbah nuklir, menurutnya, membutuhkan tenaga ahli dengan kompetensi khusus serta pengalaman lapangan yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran teoritis.
Ia mencontohkan bahwa pengawasan radiasi sering kali menghadapi kondisi nyata yang kompleks di lapangan, sehingga diperlukan tenaga pengawas yang memiliki pengalaman teknis sekaligus kemampuan koordinasi lintas lembaga. Saat ini, jumlah pengawas radiasi utama di BAPETEN masih sangat terbatas.
“Saat ini pengawas radiasi utama di BAPETEN hanya enam orang, dan beberapa di antaranya akan segera memasuki masa pensiun. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kesinambungan pengawasan keselamatan nuklir,” ungkapnya.
Kebutuhan SDM Lintas Disiplin
Zainal mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi tantangan serius berupa kesenjangan generasi tenaga ahli nuklir. Jumlah insinyur nuklir berpengalaman masih terbatas, sementara pengalaman dalam proyek nuklir berskala besar juga relatif minim.
