Kondisi tersebut menuntut adanya strategi pengelolaan pengetahuan (knowledge management) agar pengalaman para ahli senior dapat ditransfer kepada generasi baru sebelum memasuki masa pensiun. “Kalau semua tenaga kerja baru direkrut tanpa ada proses transfer pengalaman dari para ahli senior, maka pengoperasian PLTN akan sulit berjalan optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman operasional yang dimiliki lembaga penelitian nuklir sebelumnya perlu dilanjutkan agar tidak terjadi putusnya kompetensi nasional dalam bidang teknologi nuklir. Selain ahli nuklir, pembangunan dan pengoperasian PLTN juga membutuhkan SDM dari berbagai disiplin ilmu seperti geoteknik, termohidrolika, metalurgi, serta proteksi fisik.
Menurut Zainal, pembangunan PLTN merupakan proyek kompleks yang melibatkan rantai pasok global dan berbagai komponen teknologi dari banyak negara. Karena itu, pengawasan tidak hanya dilakukan pada sistem nuklir, tetapi juga pada peralatan non-nuklir yang menjadi bagian dari instalasi.
