Dari satu kelas yang rata-rata berisi 32 hingga 34 siswa, hanya sekitar empat sampai lima anak yang benar-benar menghabiskan porsi makanannya.
“Bayangkan, di satu kelas itu hanya 4-5 siswa yang omprengnya benar-benar habis dan makanannya memang dimakan oleh siswa,” sebut Dian.
Sebagian besar siswa lainnya tidak mengonsumsi makanan secara tuntas, bahkan ada yang hanya mencicipi sedikit.
Di beberapa sekolah, siswa bahkan diperbolehkan membawa pulang sisa makanan karena tidak semua SPPG menerapkan larangan. Kondisi ini, menurut Dian, perlu menjadi perhatian serius penyelenggara program.
Program MBG dirancang untuk menjamin kecukupan nutrisi anak. Namun, fakta di lapangan menunjukkan makanan yang disediakan belum sepenuhnya dikonsumsi penerima manfaat.
“Sungguh sangat ironis jika program yang bertujuan mengatasi persoalan makanan dan nutrisi, dengan biaya besar, justru berpotensi menyebabkan food waste,” kata dia.
Dalam penelitian ini juga memetakan peluang, kendala, dan strategi pelaksanaan MBG di tingkat sekolah. Studi tersebut memandang MBG bukan sekadar program teknis penyediaan makanan, tetapi sebagai proses pembangunan yang dipengaruhi relasi sosial, infrastruktur, tata kelola, dan partisipasi aktor lokal.
